Garudaposnews.id, PANCUR BATU – Dinding beton dan jeruji besi biasanya identik dengan jarak. Namun, sore itu di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pancur Batu, suasana kaku berganti menjadi kehangatan yang mengharukan. Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar, melainkan jembatan yang kembali menghubungkan hati yang sempat terpisah.
Seiring matahari mulai terbenam, selasar Lapas tak lagi sunyi. Tawa renyah anak-anak, bisik rindu antara suami dan istri, serta tatapan teduh seorang ibu kepada putranya memenuhi ruangan. Program Buka Puasa Bersama Keluarga ini menjadi oase bagi para warga binaan yang selama ini hanya bisa memendam rindu lewat doa.
“Kami ingin dinding ini tidak menjadi pembatas kasih sayang. Melalui momen ini, kami menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan penuh rasa kekeluargaan,” ungkap Tribowo, Kepala Lapas Pancur Batu, dalam sambutannya yang hangat.
Saat azan Magrib berkumandang, suasana berubah menjadi khidmat sekaligus syahdu. Tak ada kemewahan berlebih, namun hidangan sederhana yang tersaji sore itu terasa bak pesta perjamuan Karena dinikmati langsung dari tangan orang-orang tercinta.
Dalam kegiatan tersebut ada beberapa poine utama mengapa kegiatan ini begitu bermakna yaitu Rehabilitasi Mental, Motivasi Perubahan dan Sisi Kemanusiaan.
Bagi Kalapas, kegiatan ini adalah investasi masa depan. Beliau berharap semangat kebersamaan ini menjadi bahan bakar bagi warga binaan untuk mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang baru.
Lapas Pancur Batu sekali lagi membuktikan bahwa di balik tembok yang dingin, benih-benih kebaikan dan perubahan tetap bisa tumbuh subur, asalkan disiram dengan kasih sayang dan dukungan keluarga.
Ramadan di sini bukan hanya tentang kesabaran dalam berpuasa, tapi tentang keikhlasan untuk saling memaafkan dan kebersamaan yang nyata.(Dn)













Leave a Reply